DISKUSI TEKNIS YUSTISIAL PENGADILAN TINGGI AGAMA BANTEN

Pada hari Rabu, tanggal 24 April 2019 bertepatan dengan 19 Sya’ban 1440 H, Pengadilan Tinggi Agama Banten menggelar Diskusi Teknis Yustisial sebagai pelaksanaan amanat dari Surat Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama Nomor : 1324/DjA/OT.01.1/IV/2019 tanggal 12 April 2019. Diskusi yang mengambil tempat di Ruang Rapat Pimpinan PTA Banten ini dibuka dan dipimpin langsung oleh Wakil Ketua PTA Banten, Dr. H. Bunyamin Alamsyah, S.H., M.Hum. dan diikuti oleh seluruh Hakim Tinggi, Pejabat Kepaniteraan, Panitera Pengganti, dan Staf Kepaniteraan PTA Banten.

Diskusi Teknis Yustisial ini dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas tenaga teknis peradilan agama dan untuk menghidupkan diskusi ilmiah di lingkungan peradilan agama dalam hal penguasaan hukum materil, hukum formil, dan administrasi yustisial.

Diskusi Teknis Yustisial PTA Banten ini membahas mengenai Putusan Sela, dan menghasilkan kesimpulan Diskusi sebagai berikut:

“Bahwa berdasarkan hasil diskusi bidang yustisial tentang penambahan putusan sela pengadilan banding sebagai tambahan pembuktian, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Pembuktian dalam persidangan peradilan agama harus mengacu pada Pasal 163 HIR atau 1865 BW yang menyebutkan “Barang siapa yg menyatakan ia mempunyai hak atau ia menyebutkan sesuatu perbuatan untuk menguatkan haknya itu atau untuk membantah hak orang lain, maka orang itu harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian itu”.
  2. Keterangan-keterangan saksi pertama dan saksi kedua yang memiliki pengertian yang sama belum tentu menjadi otomatis berkesesuaian.
  3. Jika ada kekurangan saksi atau saksi cukup namum salah satu saksi memberikan keterangan berdasarkan cerita dari pihak(testimonum de auditu), sertaketerangan saksi belum lengkap, maka kita membuat putusan sela sesuai dengan kebutuhan.
  4. Perlunya putusan sela adalah untuk menambah pemeriksaan saksi di tingkat pertama manakala terdapat Berita Acara Sidang yang tidak jelas dan tidak begitu tajam (kurang substansial) karena fokusnya bukan hanya sekedar saksi tetapi pembuktian secara umum dan hakim tingkat banding akan menyimpulkan dari apa yang disimpulakan di tingkat pertama.
  5. Putusan sela juga dibuat jika ada keraguan dari hakim tinggi tingkat banding atau justru malah ingin membantu putusan pengadilan agama karena hakim tinggi tingkat banding disini sebagai sebagai judex facti.”

(rrp)